Iklan

terkini

Lalu Moh Nasir Hanya Bisa Termangu Meratapi Nasib

Halaman Kita
Minggu, 30 Maret 2025, Maret 30, 2025 WIB Last Updated 2025-03-31T02:45:48Z
Menatap: Lalu Moh Nasir, menatap langit rumahnya menceritakan dirinya yang di rumahkan dari pekerjaannya, Ahad (31/03)

SELONG, Halamankita.com - Menjelang hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriyah, tahta kebahagiaan Lalu Moh Nasir direnggut licik. Wajahnya kusut, tatapan matanya pun kosong.


Bak tersambar petir, dirinya hanya bisa termangu meratapi nasib. Bagaimana tidak, kabar mengenai dirinya harus di rumahkan dari pekerjaannya yang puluhan tahun ditekuni. 


Mamiq Nasir, sapaan akrabnya, bekerja penjaga sekolah di SDN 1 Labuan Haji. 


Selain umurnya yang sudah mulai menua, ditengarai dirinya juga tak terdaftar dalam database pegawai.


Dia telah bekerja di SDN 1 Labuhan Haji sejak Januari 2012 sebagai penjaga sekolah, petugas kebersihan, dan keamanan. Bahkan, keluarganya turut membantu dalam pekerjaannya. 


Tahun 2018 lalu, menerima SK Bupati. Kendati mendapat SK dirinya tetap dianggap sebagai tenaga kontrak yang bisa diberhentikan sewaktu-waktu.


"Awal mula saya dirumahkan itu setelah kepala sekolah mengikuti rapat di kantor, entah di UPTD atau Dinas, saya kurang tahu," tutur Nasir belum lama ini.


Hasil dari rapat itu kemudian disampaikan kepada dewan guru, termasuk dirinya sebagai petugas keamanan dan kebersihan di sekolah.


Dia menceritakan, dalam rapat tersebut disampaikan, tenaga honorer yang tidak lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), serta tidak terdaftar dalam database bakal diberhentikan.


Sedangkan mereka yang tetap bekerja akan mendapatkan honor lebih kecil dibandingkan mereka yang lolos PPPK.


Bagi mereka yang tidak lulus dikembalikan sebagai Tenaga Harian Lepas (THL). 


"Untuk honor saya hanya Rp 12 ribu per setengah hari, saya kerja dari pukul 07.00 hingga 14.00 Wita," paparnya.


Nasir awalnya mengira akan tetap menerima honor sekitar Rp 650 ribu per bulan. Tapi malah dipotong menjadi Rp 400 ribu. 


Setelah menerima surat pemberitahuan, dia baru sadar lebih baik mengundurkan diri daripada tetap bertahan dengan ketidakpastian.


"Sebelum saya minta mengundurkan diri, dari isi surat itu sudah jelas saya akan dirumahkan. Tidak ada pernyataan langsung dari kepala sekolah," katanya.


Honor yang diterima juga tidak sesuai dengan perhitungan awal. Seharusnya, Rp 12 ribu dikali 25 hari kerja dia akan menerima Rp 375 ribu, tetapi hanya Rp 300 ribu.


Tidak hanya dirinya, anaknya, Lalu Akbar Al Kabir, juga ikut mengundurkan diri. Padahal, telah memiliki SK Surat Perintah Kerja sejak 2022 dengan honor Rp 400 ribu per bulan yang dibayarkan setiap tiga bulan sekali.


Nasir merasa kerja kerasnya harus dihargai karena ia sudah bertahun-tahun berkerja sekolah itu menjaga keamanan sekolah juga menjaga  kebersihannya. 


Dirinya juga merasa kecewa karena belum sebulan dirinya keluar, sudah ada tenaga baru yang masuk menggantikannya.


Berkat pengetahuannya di kanal-kanal paltform YouTube, jika ada pihak sekolah yang mengangkat tenaga baru tanpa prosedur yang jelas, pasti ada masalah. 


Tapi dirinya mengaku heran, pasalnya belum satu bulan keluar, tapi sudah ada orang lain bekerja di posisinya.


Ia mengingat ucapan kepala sekolah yang pernah berkata akan memanggilnya kembali jika dibutuhkan, tetapi hingga kini belum ada kabar. 


"Justru, ada tenaga baru yang diberi tugas seperti pekerjaan saya," pungkasnya.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Lalu Moh Nasir Hanya Bisa Termangu Meratapi Nasib

Terkini

Iklan