![]() |
Tradisi Tiu: Warga Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, ramai-ramai menunggang kuda melintasi jalan utama desa setempat, tradisi ini disebut dengan Tiu, Selasa (01/04). |
"Ajari lah anak-anak kalian memanah, berenang, dan berkuda," (HR At Thabrani).
SELONG, Halamankita.com - Suara takbir berkumandang. Tanda 1 Syawal 1446 Hijriyah tiba.
Umat islam dibelahan dunia pun menyambutnya dengan gembira. Berbagai kegiatan pun digelar.
Bagi ibu rumah tangga sibuk memasak untuk dihidangkan saat hari raya. Malamnya, muda mudi menggelar pawai takbiran dengan memamerkan karya seni berupa miniatur masjid.
Sembari kumandang takbir terus menggema, mereka seolah asyik dengan kegiatannya. Bagi umat muslim, Lebaran sebutannya merupakan hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Di Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, justeru nampak pemandangan berbeda. Terlihat, ratusan kuda berjejer, lengkap dengan pernak perniknya.
Kuda-kuda itu, nantinya akan di tunggang. Gelaran itu oleh warga setempat disebut dengan tradisi Tiu.
Tradisi Tiu, dilaksanakan selama dua hari setelah Idul Fitri yakni tanggal 1 hingga 2 Syawal.
Tradisi ini digelar dari sore, selesai shalat hari raya Idul Fitri. Kemudian dilanjutkan paginya, tujuannya itu untuk memeriahkan lebaran.
“Pawai kuda ini selalu kami laksanakan sejak dulu oleh para pendahulu kami di Desa Jantuk rutin setiap tahunnya sampai sekarang," terang Azizul Hakim Sekretaris Desa Jantuk, Senin (01/04).
Bagi umat muslim, menunggang kuda merupakan salah satu sunnah Nabi Muhammad SAW. Perkataan itu terekam dalam sebuah Hadist Riwayat At Thabrani, yang mengatakan, ajari lah anak-anak kalian memanah, berenang, dan berkuda.
Hadist ini, yang sebagai salah dasar digelarnya tradisi itu. Selain, ada cerita sejarah lainnya.
Cerita sejarah itu tak lain, Dia menuturkan, Tiu, dalam bahasa Jantuk, berarti menunggang kuda. Tradisi ini hanya digelar saat Idul Fitri tiba.
Tradisi satu digelar bermaksud untuk memeriahkan datangnya bulan syawal dan menyambut kemenangan.
Kendati demikian, ucap Azizul Hakim, tradisi ini banyak pendapat soal awal mula digelar. Sebab, kata dia, tidak adanya bukti maupun catatan sejarah yang menjelaskan hal tersebut.
"Namun beberapa pendapat orang tua kami disini, tradisi lahir berkaitan dengan kerajaan Sumbawa," ucapnya.
Dia menceritakan, peristiwa peperangan suku Sasak dengan Karang Asem, Bali.
Pada saat itu, kerajaan Sumbawa membantu Lombok memenangkan peperangan melawan kerajaan Karang Asem, Bali.
Untuk mengenang, kemenangan itu tradisi ini digelar. Setelah itu rutin digelar setiap hari raya Idul Fitri tiba.
"Sehingga saat itulah muncul tradisi ini dan dilakukan rutin ketika lebaran Idul Fitri,” tuturnya.